Mengapa Adenomiosis Bisa Kambuh Meski Sudah Dioperasi?
Bagi banyak perempuan, mendengar bahwa adenomiosis muncul kembali setelah menjalani operasi tentu terasa mengecewakan. Padahal, keputusan untuk menjalani prosedur bedah bukan hal yang mudah. Lantas, mengapa kondisi ini masih bisa berulang?
Adenomiosis terjadi ketika jaringan yang menyerupai lapisan dalam rahim (endometrium) tumbuh ke dalam dinding otot rahim (miometrium). Pertumbuhan jaringan ini sangat dipengaruhi oleh hormon estrogen. Operasi konservatif — yaitu prosedur yang bertujuan mempertahankan rahim — memang dapat mengangkat atau mengurangi jaringan adenomiosis yang sudah terbentuk, sehingga keluhan seperti nyeri haid hebat dan perdarahan berlebih bisa mereda. Namun, operasi tidak mengubah kondisi hormonal yang mendasarinya.
Faktor yang Meningkatkan Risiko Kekambuhan
- Sisa jaringan mikroskopis: Adenomiosis sering kali menyebar secara difus di seluruh dinding otot rahim, sehingga sulit untuk mengangkatnya secara menyeluruh tanpa mengangkat rahim itu sendiri.
- Pengaruh estrogen berkelanjutan: Selama perempuan masih dalam usia reproduktif dan memiliki siklus menstruasi, kadar estrogen tetap aktif dan dapat merangsang pertumbuhan jaringan baru.
- Derajat keparahan awal: Semakin luas adenomiosis sebelum operasi, semakin besar kemungkinan ada area yang tidak terjangkau selama prosedur berlangsung.
- Jarak waktu setelah operasi: Kekambuhan umumnya lebih sering terjadi seiring berjalannya waktu, terutama jika tidak ada terapi lanjutan setelah operasi.
Apa Artinya Ini bagi Program Kehamilan Anda?
Jika Anda sedang merencanakan kehamilan dan memiliki riwayat adenomiosis — baik yang sudah dioperasi maupun belum — evaluasi menyeluruh sejak dini sangatlah penting. Adenomiosis dapat memengaruhi kualitas lapisan rahim tempat embrio akan menempel, serta berpotensi memengaruhi cadangan sel telur (ovarian reserve) apabila kondisi ini berkaitan dengan endometrioma pada ovarium.
Langkah Evaluasi yang Umumnya Dilakukan
- USG transvaginal: Membantu dokter menilai kondisi dinding rahim dan mengidentifikasi tanda-tanda adenomiosis aktif.
- Pemeriksaan cadangan ovarium: Melalui pengukuran hormon AMH (Anti-Müllerian Hormone) dan penghitungan folikel antral untuk mengetahui potensi sel telur yang tersisa.
- Diskusi riwayat medis lengkap: Termasuk jenis dan hasil operasi sebelumnya, keluhan saat ini, serta durasi mencoba hamil.
Berdasarkan hasil evaluasi tersebut, dokter fertilitas dapat merekomendasikan pendekatan yang paling sesuai — mulai dari pemantauan siklus alami, stimulasi ovulasi, inseminasi intrauterin (IUI), hingga program bayi tabung (IVF). Pada kasus adenomiosis dengan dinding rahim yang telah terpengaruh, persiapan lapisan rahim sebelum transfer embrio menjadi salah satu pertimbangan penting dalam protokol IVF.
Jangan Menunda Konsultasi
Waktu adalah faktor yang sangat berarti dalam perjalanan kesuburan, terutama bagi perempuan dengan kondisi seperti adenomiosis. Semakin cepat kondisi Anda dievaluasi secara menyeluruh, semakin banyak pilihan yang tersedia untuk membantu mewujudkan kehamilan yang diidamkan.
Jika Anda memiliki pertanyaan seputar adenomiosis dan program kehamilan, tim dokter ASHA IVF Indonesia siap mendampingi Anda dengan pendekatan yang personal dan berbasis bukti. Hubungi kami melalui WhatsApp untuk menjadwalkan konsultasi awal dan mulailah merencanakan langkah terbaik bagi Anda.
Terinspirasi dari aktivitas Instagram @ashaivfindonesia. Lihat unggahan aslinya →
