OPU pada Pasien 40 Tahun dengan Mioma Uteri: Kisah Nyata IVF Egg Retrieval at 40 with Uterine Fibroids: A Real IVF Story

Usia 40 tahun dan mioma uteri bukan penghalang mutlak untuk program IVF. Pelajari bagaimana OPU berhasil menghasilkan 8 oosit di ASHA IVF Indonesia.Age 40 and uterine fibroids are not absolute barriers to IVF. Learn how egg retrieval successfully yielded 8 oocytes at ASHA IVF Indonesia.

OPU pada Pasien 40 Tahun dengan Mioma Uteri: Kisah Nyata IVF

Usia 40 Tahun dan Mioma Uteri: Apakah IVF Masih Mungkin?

Salah satu kekhawatiran yang paling sering disampaikan oleh pasangan yang menjalani program hamil adalah soal usia. Memasuki dekade keempat kehidupan, banyak perempuan merasa peluang mereka untuk hamil semakin sempit, terlebih jika ada kondisi medis penyerta seperti mioma uteri. Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan gambaran yang lebih penuh harapan daripada yang sering dibayangkan.

Di ASHA IVF Indonesia, seorang pasien berusia 40 tahun yang juga terdiagnosis mioma uteri berhasil menjalani prosedur Ovum Pick Up (OPU) dan mendapatkan 8 oosit sebagai langkah awal dalam perjalanan IVF-nya. Pencapaian ini merupakan hasil dari perencanaan medis yang cermat dan pendampingan dokter fertilitas yang berpengalaman.

Apa Itu Ovum Pick Up (OPU)?

OPU adalah prosedur pengambilan sel telur yang dilakukan setelah pasien menjalani stimulasi ovarium terkontrol. Selama fase stimulasi, dokter akan memantau perkembangan folikel melalui pemeriksaan USG secara berkala. Ketika folikel dinilai telah matang, OPU dilakukan dengan panduan ultrasonografi transvaginal untuk mengaspirasi cairan folikel yang mengandung sel telur (oosit).

Prosedur ini umumnya berlangsung 15–30 menit dan dilakukan dalam kondisi sedasi ringan sehingga pasien tidak merasakan nyeri yang berarti. Oosit yang berhasil dikumpulkan kemudian akan dievaluasi oleh embriologis di laboratorium sebelum dipertemukan dengan sperma melalui proses fertilisasi.

Tantangan Khusus: Usia Lanjut Reproduksi dan Mioma Uteri

Dua faktor utama yang menjadi tantangan pada kasus ini adalah usia dan keberadaan mioma uteri. Berikut penjelasan singkatnya:

  • Usia 40 tahun ke atas: Seiring bertambahnya usia, cadangan ovarium (ovarian reserve) cenderung menurun, baik dari sisi jumlah maupun kualitas sel telur. Ini berarti respons terhadap stimulasi hormon bisa berbeda dibandingkan pasien yang lebih muda, sehingga protokol stimulasi perlu disesuaikan secara individual.
  • Mioma uteri: Mioma adalah pertumbuhan jinak pada dinding rahim yang cukup umum ditemukan pada perempuan usia reproduktif. Tergantung pada ukuran dan lokasinya, mioma dapat memengaruhi implantasi embrio. Evaluasi menyeluruh diperlukan untuk menentukan apakah mioma perlu ditangani lebih dulu atau apakah IVF dapat tetap dilanjutkan dengan pemantauan ketat.

Mengapa Evaluasi Individual Sangat Penting?

Tidak ada dua pasien yang kondisinya persis sama. Itulah mengapa pendekatan yang dipersonalisasi menjadi kunci keberhasilan program IVF, terutama pada kasus dengan faktor risiko tambahan. Dokter fertilitas akan mempertimbangkan berbagai aspek, mulai dari hasil pemeriksaan cadangan ovarium (seperti kadar AMH dan AFC), kondisi rahim, riwayat medis, hingga kesiapan fisik dan psikologis pasien sebelum merancang protokol yang paling tepat.

Delapan oosit yang berhasil dikumpulkan dari pasien ini bukan sekadar angka — setiap oosit mewakili peluang yang diperjuangkan melalui proses evaluasi dan penanganan yang teliti.

Langkah Selanjutnya Setelah OPU

Setelah oosit diperoleh, proses IVF berlanjut ke tahap fertilisasi, di mana oosit dipertemukan dengan sperma. Embrio yang terbentuk kemudian dipantau perkembangannya selama beberapa hari sebelum dilakukan transfer ke dalam rahim atau dibekukan (vitrifikasi) untuk transfer di siklus berikutnya. Setiap keputusan diambil berdasarkan kondisi aktual embrio dan kesiapan endometrium pasien.

Jika Anda atau pasangan sedang mempertimbangkan program hamil dan memiliki kekhawatiran terkait usia maupun kondisi medis tertentu, jangan tunda untuk mencari informasi yang tepat. Tim dokter fertilitas ASHA IVF Indonesia siap mendampingi Anda melalui konsultasi personal — tersedia pula layanan konsultasi via WhatsApp untuk kemudahan Anda, di mana pun Anda berada.

Terinspirasi dari aktivitas Instagram @ashaivfindonesia. Lihat unggahan aslinya →

Is IVF Still Possible at 40 with Uterine Fibroids?

One of the most common concerns among couples pursuing fertility treatment is age. As women enter their forties, many worry that their window of opportunity is closing — especially when a condition such as uterine fibroids is also present. Yet real-world outcomes often paint a more hopeful picture than people expect.

At ASHA IVF Indonesia, a 40-year-old patient who had also been diagnosed with uterine fibroids successfully underwent an Ovum Pick Up (OPU) procedure and had 8 oocytes retrieved — a meaningful first step in her IVF journey. This result was made possible through careful medical planning and the guidance of an experienced fertility specialist.

What Is Ovum Pick Up (OPU)?

OPU is the egg retrieval procedure performed after a patient has completed a course of controlled ovarian stimulation. During the stimulation phase, the doctor monitors follicle growth through regular ultrasound assessments. Once the follicles reach the appropriate size, OPU is carried out under transvaginal ultrasound guidance to aspirate the follicular fluid containing the eggs (oocytes).

The procedure typically takes 15 to 30 minutes and is performed under light sedation, so patients experience minimal discomfort. The retrieved oocytes are then assessed by an embryologist in the laboratory before being fertilised with sperm.

The Specific Challenges: Advanced Reproductive Age and Uterine Fibroids

Two key factors made this case particularly complex. Here is a brief overview of each:

  • Age 40 and above: As women age, ovarian reserve — both the number and quality of eggs — tends to decline. This means the response to hormonal stimulation may differ from that of younger patients, making an individualised stimulation protocol essential.
  • Uterine fibroids: Fibroids are benign growths of the uterine wall that are relatively common among women of reproductive age. Depending on their size and location, fibroids can potentially affect embryo implantation. A thorough evaluation is needed to determine whether the fibroids require treatment before IVF proceeds, or whether the cycle can continue with close monitoring.

Why Personalised Evaluation Matters

No two patients are exactly alike, which is why a personalised approach is central to IVF success — especially when additional risk factors are involved. A fertility specialist will consider a wide range of variables, including ovarian reserve markers such as AMH levels and antral follicle count, uterine condition, medical history, and the patient's overall physical and emotional readiness, before designing the most appropriate protocol.

The eight oocytes retrieved from this patient are more than a number — each one represents an opportunity earned through careful assessment and individualised care.

What Happens After OPU?

Once the oocytes are collected, the IVF process moves on to fertilisation, where the eggs are combined with sperm. The resulting embryos are monitored for several days as they develop. Depending on their quality and the patient's endometrial readiness, embryos may be transferred to the uterus or vitrified (frozen) for a future transfer cycle. Every decision is guided by the actual condition of the embryos and the patient's individual circumstances.

If you or your partner are considering fertility treatment and have concerns about age or an underlying medical condition, do not hesitate to seek accurate, personalised information. The fertility specialists at ASHA IVF Indonesia are ready to support you every step of the way — including through a convenient WhatsApp consultation, no matter where you are located.

Terinspirasi dari aktivitas Instagram @ashaivfindonesia. Lihat unggahan aslinya →

Kembali ke ArtikelBack to Articles
Chat WhatsAppChat WhatsApp